LANGITBABEL.COM-Malam ini saya menulis sesuatu yang wajib kita renungkan suatu peristiwa yang melukai rasa keadilan dan kemanusiaan.
Ada duka yang terlalu berat untuk dipikul oleh pundak mana pun, apalagi oleh bahu mungil seorang anak perempuan yang belum sepenuhnya mengerti betapa kejamnya dunia.
Di bawah langit Bali tragedi pada Sabtu 25 Juli 2026 kemarin sungguh sangat menyayat hati ,seorang pria asal Tabanan tewas usai menjadi korban amuk massa.
Momen mengharukan saat putri bungsu KD menangisi kedatangan jenazah sang ayah viral usai beredar luas di jagad media sosial.
Seorang ayah sosok yang selama ini menjadi pelindung, cinta pertama, tewas dihakimi massa tanpa melalui proses peradilan.
Namun, bagian paling menyayat hati dari cerita ini bukanlah tentang bagaimana kemarahan massa,melainkan tentang sepasang mata kecil yang menyaksikan semuanya dari jarak dekat sambil berteriak “Ayah… Ayah…!”
Anak itu meraung, memanggil nama lelaki yang biasanya memeluknya saat takut, tetapi kini terbujur kaku tak berdaya di atas tanah.
Tangan-tangan mungilnya yang bergetar hebat berusaha menggapai tubuh sang ayah, seolah berharap keajaiban kecil bisa membangunkannya kembali.
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali kehilangan rasa empati, tangisan histeris anak itu sebagai cermin kelam: betapa mudahnya kita menjadi brutal, apakah rasa kemanusiaan kita sudah lenyap?
