LANGITBABEL.COM--Jarak 125 kilometer tak menyurutkan langkah AR, seorang ibu rumah tangga (IRT) asal Desa Cupat, Kabupaten Bangka Barat.
Ia rela bolak-balik ke Pangkalpinang demi mencari keadilan atas kematian tragis sang kakak, AP, yang tewas diduga akibat pengeroyokan di Dusun Pelawan.
Untuk mencari titik terang, AR mendatangi Kantor Lembaga Pusat Dukungan Kebijakan Publik (LBH PDKP) Bangka Belitung.
Pasalnya, meski Polsek Jebus telah menetapkan tiga orang terduga pelaku berinisial H, A, dan B, dirinya bersikeras merasa belum mendapat informasi yang utuh di balik tewasnya sang kakak.
”Awalnya kami mendatangi Kanwil Kemenkum Provinsi Bangka Belitung, lalu kami diarahkan ke LBH PDKP Babel untuk mendapat pencerahan hukum terkait peristiwa ini,” ujar AR saat ditemui di Kantor LBH PDKP Babel, baru-baru ini.
Di hadapan Ketua Umum PDKP Babel, John Ganesha Siahaan, S.H., AR menceritakan kisah pilunya. Ironisnya, ia justru mengetahui kabar tewasnya sang kakak dari seorang pedagang sayur keliling.
”Kami cuma dapat kabar kakak saya tewas yang katanya korban pengeroyokan. Saya dikasih tahu saat jenazah abang saya sudah berada di Klinik Bakti Timah Parit Tiga,” ungkap AR.
Setibanya di klinik, AR mengaku syok melihat kondisi jenazah kakaknya.
“Di sana saya melihat banyak bekas luka jahitan di sekujur tubuh almarhum,” tuturnya.
Menanggapi aduan tersebut, tim advokat LBH PDKP yang terdiri dari John Ganesha Siahaan, S.H., Agus Ewen Tjandra, S.H., dan Apridahlia Montari, S.H., menyatakan akan mengkaji laporan ini secara mendalam.
John menegaskan pihaknya tak akan tinggal diam jika nantinya dalam pendalaman kasus ini ditemukan kejanggalan atau ada pihak tertentu yang sengaja menutupi fakta kematian AP.Pihaknya siap turun langsung melakukan investigasi.
”Kami akan mengerahkan tim investigasi atau paralegal dan advokat yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Kami juga ada perwakilan LBH PDKP di Bangka Barat untuk memonitor ketat perkembangan perkara ini,” pungkas John.
