fbpx

Pemikiran Filsuf Yunani Kuno Gejala Filsafat Hukum

Share

Pemikiran Filsuf Yunani Kuno : Setiap zaman ada masanya, dan setiap masa ada zamanya. Idiom ini menempatkan rasionalisasi berpikir harus ditempatkan pada konteksnya. Terlalu dini untuk menyatakan kebijakan penegakan hukum di masa Yunani adalah buruk, hanya karena dibandingkan dengan kekinian yang lebih rasional.

Sekalipun di zaman kerajaan yunani penuh dengan penindasan dan kesewenangan ternyata merupakan masa kebangkitan Pemikiran Filsuf Yunani dari kaum sofis seperti Anaximander, Herakleitos, Socrates, Plato dan Ariestoteles.  Pemikir filsuf yunani kuno yang lebih didasari pada gejala kosmik dan fisik semata, ternyata telah melahirkan pemikiran tentang nomos dan logos yang menjadi gejala awal dimulainya aliran filsafat ilmu hukum.

Socrates (469 – 399 SM) misalnya, filsuf yang terkenal dengan pernyataan “aku tahu bahwa aku tidak tahu”, telah menjadi tokoh pemikiran kunci tentang kebijakan penegakan hukum dizaman yunani hingga saat ini. Sekalipun ia (socrates) tidak mengetahui kesalahan yang ia perbuat sehingga menjalani hukuman mati tetapi ia tetap mentaatinya. Ia menerima hukum tersebut karena berasal dari penguasa (kini – negara) , sekalipun ia memiiki keyakinan apa yang dihukum kepadanya itu adalah sebuah kesalahan.

Konsitensi antara sikap dan Pemikiran Filsuf Yunani yang dilakoni Socrates, kini telah melahirkan pemikiran prinsip hukum yang dikenal asas legalitas. Hanya karena ia sudah tahu bahwa ia tidak tahu apa yang menjadi kesalahan nya, maka dengan sedikit pengetahuan tersebut maka objektiflah penegakan hukum yang dilakukan penguasa kepadanya. Kekinian, pemikiran socrates menjadi prinsip hukum yakni asas legalitas, dimana seseorang dihukum karena kesalahanya secara jelas diatur dalam peraturan.

Pemikiran socrates dilanjutkan oleh muridnya bernama Plato. Kebijakan Penegakan Hukum di Zaman Yunani  terus menerus mendapatkan kecaman dari plato. Desakan agar penegakan hukum kerajaan yunani memiliki theoria (kebenaran yang objektif) ditulisnya dalam buku Politeia. Secara khusus diteruskan oleh muridnya, bernama aristoteles dilakukan pemisahan antara pemikiran tentang keadilan (buku Ethica) dengan pemikiran tentang negara (Politica).

Melalui Pemikiran Filsuf Yunani Aristoteles, diperoleh gejala hukum merupakan sikap bathin masyarakat yang secara realistic tidak dapat hidup seorang diri, namun membutuhkan orang lain. Hukum lahir dari kehendak setiap orang yang membutuhkan keteraturan dan ketaatan, termasuk diperlukannya suatu kekuatan yang dinamakan Penguasa (negara) untuk menjalankan hkum dan memastikan penegakan hukumnya.

Elvin Mustika

Penggiat Literasi Hukum dan Hak Asasi Manusia dari Kampus Universitas Terbuka Pangkalpinang

You may also like...