fbpx

PDKPBABEL Bahas KEK Pariwisata Bersama Rohaniawan Bangka Belitung

Share

Bangka Belitung telah digagas sebagai daerah destinasi wisata Bali Baru. Keseriusan ini ditunjukkan dengan mengajukan 3 Area di Propinsi Bangka Belitung ke meja Presiden Jokowi sebagai kawasan ekonomi khusus Pariwisata.

Saat ini satu area sekitar 300Ha di Kabupaten Belitung sebenarnya telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2016 dengan judul Kawasan Ekonomi Kusus Tanjung Kelayang.

Organisasi penggiat Hak Asasi Manusia PDKPBabel mencoba menarik strategi program pemerintah tersebut kedalam dialog masyarakat sipil tentang Suitanable Developments Goals Strategy (SDGs) yang merupakan panduan internasional baik untuk pedoman atau rujukan penduduk Bangka Belitung sebagai destinasi (Tempat) Wisata tetapi juga panduan yang dikenal turis (Pengunjung) yang berasal dari anggota negara PBB sebagai penikmat wisata.

Firman Saputra, Ketua Divisi Pendidikan PDKPBABEL menilai rohaniawan atau pemuka agama sebenarnya sejak tahap perencanan KEK Pariwsata di Bangka Belitung perlu dilibatkan dalam perumusan naskah program.

Katanya tokoh agama memiliki instrumen bagaimana mentransformasikan SDGs tersebut menjadi produk nilai yang mampu digunakan umatnya sebagai moralitas pergaulan dalam keberagaman menghadapi masuknya orang dari berbagai latar belakang budaya dan agama.

Dengan prolog tersebut, PDKPBabel menemui para tokoh 5 agama serta para guru aliran kepercayaan dan keyakinan yang ada di Bangka Belitung. Namun sebelum mendudukan para tokoh dan para guru dalam satu tema fokus diskusi, Firman Saputra yang juga lulusan Sarjana Agama Islam mencoba mengawalinya dengan membangun silahturahmi secara personal.

Baca : 17 Indikator SDGs Pariwisata

Hari ini, silahturahmi PDKPBabel itu dijalin bersama Pdt. Frans dan Pdt. Yusuf Lie sambil ditemani kopi hitam dan ubi goreng kopitan pangkalpinang.

Materi diskusi diawali oleh John Ganesha S dengan mengambil focus tema tentang Definisi Hak Asasi Manusia dalam UU No. 39 Tahun 1999 yang secara tegas memuat unsur norma bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Advokat Agustin Siregar, SH – Ustd Firman Saputra, Pdt Frans, Pdt Yusuf Lie dan John Ganesha Siahaan

“Bagaimana memperlihatkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia dengan seperangkat Hak”

John Ganesha Entry Point of View

Pertanyaan itu ternyata dijawab oleh para rohaniawan dengan mendeskripsikan fakta sejarah, riwayat kisah nabi, bahkan wahyu atau firman Tuhan berdasarkan apa yang dipelajari pribadi mereka sebagai iman.

Ustd Firman Saputra misalnya menceritakan tentang Sejarah terbitnya Piagam Madinah 622Masehi yang menjelaskan hukum tertulis berisikan tentang kesepakatan untuk membangun panduan moral pergaulan dalam masyarakat berkonflik serta mengupas sifat munafik sebagai musuh kemanusiaan,

Kemudian, Pendeta Frans menceritakan kisah Yesus Kristus dan Stefanus yang mengalami penghukuman yang kejam, namun tetap menerbitkan doa pengampunan kepada para pelaku.

Sedangkan Pdt Yusuf Lie menceritakan kerisauannya tentang bagaimana agama dapat menjadi korban atas persoalan sosial seperti keterbatasan tanah, maraknya perdagangan narkoba, perebutan sumber ekonomi di Bangka Belitung.

Ia menunjukan bagaimana relasi antara kemiskinan yang berkepanjangan dapat berujung timbulnya konflik sosial atasnama agama.

Dialog Keberagaman dalam Perbedaan yang digagas Perkumpulan PDKPBABEL

Dialog sejarah dan pengalaman iman dari para rohaniawan di Bangka Belitung ini harus berhenti pada pukul 12.30 WIB, karena sejak awal memang telah mereka sepakati bahwa dialog hari ini bukan ditujuankan mencari kebenaran sejarah maupun iman, tetapi menciptakan ruang dialog bagi rohaniawan untuk menyusun literasi tentang upaya perlindungan dan penghormatan Hak Asasi Manusia menghadapi strategri KEK Pariwisata di Bangka Belitung .

Menurut Ganesha , PDKPBABEL perlu mengadakan workshop tentang Hak Asasi Manusia sebagai Hukum Positif di Indonesia yang diikuti oleh Rohaniawan Bangka Belitung sebagai peserta.

Ia optimis melalui workshop ini, rohaniawan akan memperoleh kemampuan literasi tentang moral view dari Hak Asasi Manusia. yang dapat di pararelkan dalam materi khotbah mimbar kepada jemaatnya

Lababel

Portal berita dan blog dan publisher terhadap konten musik, foto, film dan video (karya seni hiburan)

You may also like...