fbpx

FORDISPEMA Air Mesu Pahami Konsep Keadilan Gender

Share

Dalam rangka membangun kesadaran hukum tentang Konsep Keadilan Gender, FORDISPEMA Desa Air Mesu gelar Penyuluhan Hukum melalui Dana Bantuan Hukum Kementerian Hukum dan HAM yang dikelola oleh Perkumpulan PDKPBABEL. Miranda Yusri, Ketua FORDISPEMA AIR MESU mengatakan kebutuhan anggota untuk memahami Konsep Keadilan Gender dikarenakan potensi peningkatan kasus KDRT ditengah Pandemi Covid19.

Miranda Yusri, Mahasiswa Hukum Pertiba mengatakan acara penyuluhan hukum dimulai Pukul 16.00 WIB dilanjutkan dengan Berbuka Puasa Bersama. Lokasi pelaksanaan Penyuluhan Hukum dipilih disalah satu Pondok Pak Haji di Area Pemancingan Desa Air Mesu Bangka Tengah. Mewakili peserta, Miranda Yusri berharap melalui kegiatan penyuluhan hukum dapat memberikan pemahaman yang filosofis dan empiris tentang Konsep Keadilan Gender.

Pada saat pembukaan, Budi Wijaya dari Perkumpulan PDKPBABEL menekankan perbedaan penyuluhan hukum yang diadakan oleh kalangan masyarakat sipil dengan instansi penegak hukum maupun pemerintah. Menurut Budi Wijaya, aktivis LBH lebih menekankan dialog tentang Cita-cita Hukum dan Perlindungan Hak Asasi Manusia. Ia berharap para peserta berperan aktif dalam diskusi yang bertajuk “Konflik Dalam Rumah Tangga dari perspektif Hukum Pidana dan Hak Asasi Perempuan”.

Penyuluhan Hukum Konflik Dalam Rumah Tangga – Perkumpulan PDKPBABEL dan Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Bangka Belitung

Narasumber John Ganesha Siahaan, SH dalam materinya pertama kali mengajak peserta memahami Hukum Pidana sebagai Hukum Negara yang diatur dengan Undang-Undang. Kemudian mengupas beberapa kasus yang berdimensi didalam Rumah Tangga berdasarkan UU No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT. Barulah diskusi tentang Keadilan Gender menjadi terbuka, lantaran perempuan masih menjadi korban utama dalam hukum penghapusan KDRT.

“Ketika perempuan mengalami persitiwa kekerasan, masih ada pertanyaan orang termasuk penegak hukum kenapa waktu itu ia (perempuan) tidak melawan? lalu, ia (perempuan) dianggap mengakui kesalahan atau menikmati kekerasan itu. Inilah ketidakadilan Gender”

Hal senada disampaikan oleh Ranti, Mahasiswa Pertiba. Ia menegaskan bahwa perempuan bukan orang yang lemah, tetapi sering dianggap lemah kaum pria dan lingkungan masyarakat. Ranti menjawab ketika mengalami tindak kekerasan, perempuan kecenderungan tidak melawan namun hanya bisa berteriak. Respon tersebut secara tiba-tiba terjadi, karena perasaan tertekan dan takut lebih kuat dibandingkan untuk melakukan perlawanan secara fisik.

Karenanya, Ganesha mengajak para peserta untuk memahami konsep keadilan gender bukan semata tentang biologis perempuan atau laki-laki. Keadilan Gender menurut Ganesha mengajarkan tentang bagaimana menerapkan persamaan ditengah adanya kenyataan perbedaan status, kondisi dan posisi antara perempuan dan lelaki. Khusus dalam penegakan hukum, konsep keadilan gender sekalipun tampak tidak seimbang namun harus mampu ditempatkan setara. Selagi, lingkungan masih menempatkan perempuan tidak setara, maka konsep keadilan gender dalam penegakan hukum pada akhirnya harus memiliki karakter perlindungan khusunya bagi perempuan baik sebagai korban maupun pelaku tindak pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga.

Lababel

Portal berita dan blog dan publisher terhadap konten musik, foto, film dan video (karya seni hiburan)

You may also like...